• Share :

Sepakbola

Menunggu Godhot

Sabtu, 21-04-2012 13:43 | Kategori: Sorot | Dibaca 4481 kali | Komentar : 0
Menunggu Godhot (sp+) Menunggu Godhot (sp+)

USIA PSSI 15 tahun lebih lebih tua dari kemerdekaan RI. Kondisinya sama. Sama-sama ribet dan tak kunjung dewasa. Bukan bersatu, malah terus berseteru.

Kamis, 19 April 2012, para pihak yang mengklaim cinta, peduli, punya hak dan tanggung jawab mengurus sepakbola di negeri ini memperingati hari jadi ke-82 PSSI.

Pemaknaan apa yang bisa dipancangkan di luar rangkaian seremoni ziarah ke makam sang pendiri, berdoa dan syukuran bersama yang kemudian dilengkapi pencetusan jargon-jargon?

Sudah sejauh mana pembuktian cinta, kepedulian, hak, dan tanggung jawab itu berjalan dalam 1 rel dengan tujuan sama: sisihkan ego demi bersatu membangun kekuatan sepakbola nasional?

Seberapa dalam akar kesadaran dan sikap tahu diri para pengklaim itu merefleksikan kondisi faktual kini dengan rel yang 82 tahun silam dibentangkan Soeratin Sosrosoegondo (alm), yang sesungguhnya amat jelas, ringkas, dan tegas?

Jawabannya tak usah menunggu pakar menuangkan unek-uneknya. Orang awam, bahkan jauh dari urusan sepakbola, pun bisa menilai. Ya, PSSI dan sepakbola nasional kini penuh bopeng. Jauh melenceng dari khitahnya.

Soal strata, kompetisi, legalitas, dan organisasi tendang menendang si kulit bundar di republik berpenduduk lebih 230 juta jiwa ini penuh riak lantaran terus dibarengi konflik kepentingan. Bukan lagi bersatu merangkai segenap potensi sebagaimana dicita-citakan Soeratin dulu, tapi malah terburai dan tercerai berai.

Kecenderungan konyol dan bodoh kian menguat. Tak beda dengan penataan negara ini dengan segala perangkatnya. Ketika waktu terus bergulir ke depan, kita bukan lagi stagnan, tapi justru menoleh dan terus berjalan ke belakang.

Ketika Presiden RI dan Ketua Umum PSSI berganti, harapan baru mencuat. Harapan agar kondisi negara berikut sepakbolanya membaik. Tapi, begitu kepemimpinan baru itu bekerja, fakta yang terhampar malah jauh panggang dari api.

Lingkaran itu tak kunjung berujung. Presiden dan pimpinan PSSI silh berganti, kondisi tak juga dapat diperbaiki. Ibarat menunggu Godhot yang tak kunjung datang, harapan demi harapan itu pun pupus.

Sebutlah ketika Djohar Arifin Husin dkk ditetapkan sebagai pengganti Nurdin Halid dkk dalam Kongres Luar Biasa (KLB) 9 Juli 2011 di Solo. Jargon yang diletupkan waktu itu adalah mereformasi total PSSI dan sepakbola nasional.

Faktanya?

Ironis. Kinerja Djohar dkk justru memunculkan seabrek problem baru, bukan perwujudan dari harapan baru. Banyak sisi di era Nurdin yang memang mesti dibenahi, kini malah kian kusut. Yang tadinya sudah jalan dan perlu direvitalisasi, kini malah kian awut-awutan.

Kompetisi sepakbola nasional kini terbelah. Pembentukan timnas jadi dangkal dan politis sampai menyembulkan aib kekalahan 0-10 dari Bahrain. Dua kongres berlangsung dengan arah bertentangan di hari yang sama. Elemen sepakbola Indonesia, termasuk PSSI sendiri, kini terpecah belah.

Kian kederlah pegiat maupun penikmat sepakbola di negeri ini. Apalagi, setelah 2/3 lebih anggota sah PSSI mempercayakan Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia (KPSI) menggelar KLB 18 Maret 2012 dan menetapkan La Nyalla Mattalitti dkk memimpin PSSI 2012-2016, tapi Djohar dkk bergeming.

FIFA dan AFC bukan tidak tahu problematik ini. Mereka, bahkan, puyeng juga karena menerima laporan berbeda dari 2 kubu yang berseteru.

Keputusan atas nasib sepakbola Indonesia pun diambangkan hingga 15 Juni 2012. Tim investigasi untuk menggali fakta langsung sudah dibentuk. Cuma, sayangnya, urung melaksanakan fact finding dengan datang langsung. Konon, tim itu rikuh plus khawatir hadapi berbagai tekanan di sini.

Memang, proses dilanjutkan dengan cara memanggil kubu Djohar dan kubu La Nyalla ke markas AFC di Kuala Lumpur, Selasa (24/4). Tapi, tentu, cara itu tidak gamblang. Nyaris tak berbeda dengan proses sebelumnya.

Di balik itu, sepatutnya juga bangsa ini malu. Bayangkan, hanya untuk menginvestigasi biang kisruh sepakbola di Indonesia pun pihak dari negeri seberang sampai 'ketakutan'. Itu melengkapi malu akibat digilas Bahrain 10 gol tanpa balas.

Dan, bungkusan malu yang bikin sembilu terparah tentu saja fakta bahwa mengurus pekerjaan internal saja ternyata bangsa ini belum juga mampu.

Bukan mengasah kekuatan guna berkompetisi sehat dan progresif dengan negara lain, energi bangsa ini justru habis terkikis akibat sibuk bertikai sendiri.

Semua itu penting dijadikan renungan La Nyalla dkk yang dari sisi fakta, mental, moril, dan psikis tinggal menanti legitimasi. Renungan untuk segera mengubur kekonyolan dan kebodohan yang selama ini menistakan PSSI dan sepakbola Indonesia dengan tindakan nyata yang elegan, jujur, solid, dan on the track.

Hindari sikap reaktif dan langkah grasak-grusuk yang tak mencerminkan kematangan karakter sebagai pemangku kepercayaan sekaligus harapan publik sepakbila di negeri ini.

Terlalu prematur menebar kehebohan mendatangkan Alfred Riedl, misalnya, hendaknya dijadikan aksi pertama dan terakhir. Sebab, memangnya Riedl mau membentuk dan memimpin timnas yang mana selama legitimasi itu belum di tangan?

Biarkanlah kekonyolan dan kebodohan, termasuk pencatutan pangkat kemiliteran sebagai alat paksa, terus disemburkan kepengurusan yang sudah tak didukung lebih dari 2/3 aggota sah PSSI.

La Nyalla dkk tak perlu selalu sensitif, apalagi reaktif, terhadap kekonyolan dan kebodohan seperti itu. Toh, La Nyalla sendiri sudah punya prinsip kuat sebagai bekal: mantap dan konsisten menegakkan kebenaran obyektif.

Jadi, yakin saja pintu menuju tegaknya kebenaran itu akhirnya bakal terbuka. Berpikir dan bertindak elegan selama menanti legitimasi sambil terus mematangkan efektivitas kinerja tim, itu yang terbaik. Juga menyejukan.

Bila perlu sejak sekarang dikaji ulang ketajaman makna struktur kerja berikut tingkat kapabilitas kru yang mendudukinya. Bukankah jauh lebih baik mengedepankan stuktur kerja ramping dan taktis dengan out put maksimal dan kredibel?

Menantikan legitimasi, lalu pembuktian kinerja yang lebih baik dan benar dari La Nyalla dkk, memang seperti menunggu Godhot dalam urusan perbaikan nasib bangsa ini.

Cuma, jika problematik negara dan bangsa ini terlalu kompleks untuk disimplikasi, semoga saja La Nyalla dkk mampu membuktikannya lebih dulu di sebagian kecil dari kompleksitas itu: membebaskan PSSI dan sepakbola Indonesia dari kekonyolan dan kebodohan.  

 

sp+/sp+
  • PRIIITTTTT!!!

    00:15MU Terjungkal Lagi: Manchester United kian terseok. Main di Goodison Park, Minggu (20/4), Setan Merah diperah Everton 2-0.
    22:10Arsenal Bekuk Hull: Arsenal sukses bukukan 3 poin. Tandang ke kandang Hull City, Minggu (20/4), The Gunners menang 3-0.
    21:26Gresik Tanpa Daya: Gresik United ambruk ketika main di kandang. Ladeni Persib Bandung, Minggu (20/4), mereka kalah 1-4.
    20:59Berbatov Angkat Monaco: Dimitar Berbatov tentukan 3 poin AS Monaco. Berkat golnya, Monaco hantam OGC Nice 1-0, Minggu (20/4).
    20:03Liverpool Terus Melesat: Liverpool kian nyaman di puncak klasemen Premier League. Minggu (20/4), mereka gilas Norwich City 3-2.
    17:43Persebaya Pesta Gol: Persebaya Surabaya mengamuk di Gelora Bung Tomo. Minggu (20/4), Bajul Ijo hantam Perseru Serui 4-0.
    16:33Merio Dekati 2.000: Stadium Jakarta ringkus Pacific Caesar 81-75. Toreh 24 poin, Merio Ferdiansyah dekati koleksi 2.000 poin.
    15:34Hamilton Hattrick Juara: Lewis Hamilton melesat GP China. Toreh waktu 1:35,09,751 jam, ia hattrick juara pada race Minggu (20/4).
    14:18SWA Libas NSH GMC: Satya Wacaca Netro LBC-Bandung tikam NSH GMC Jakarta 81-55. Lima pemain SWA bukukan double digit.
    13:12Atlanta Cambuk Indiana: Atlanta Hawks bekuk Indiana Pacers, Minggu (20/4) WIB. Di game 1 playoff NBA, Atlanta menang 101-93.
    12:13Garuda Emas Kembali: Minggu (20/4) pukul 11:00 WIB, timnas U-19 Indonesia tiba di Tanah Air. Itu disebut Ilham Udin Armayin.
    04:03Roma Digdaya: AS Roma perkasa di markas Fiorentina, Minggu (20/4) WIB. Roma menang 1-0 di laga Serie A 2013/2014.
    03:28Sociedad Tikam Espanyol: Real Sociedad tapaki zona Eropa. Tarung Minggu (20/4) WIB, mereka bekap Espanyol 2-1 di laga La Liga.
    02:27Hamburg Kian Rawan: Hamburger SV belum juga keluar dari zona degradasi. Sabtu (19/4), mereka justru dibekap Wolfsburg 3-1.
    02:25Pogba Pahlawan: Paul Pogba jadi penentu tambahan 3 poin Juventus. Gol Pogba pastikan I Bianconeri hantam Bologna 1-0.
    01:30Chelsea Tersungkur: Chelsea gagal ke puncak klasemen Premier League. The Blues kandas 1-2 dari Sunderland, Sabtu (19/4).
    23:10Villa-Soton Imbang: Kontra Southampton, Sabtu (19/4), Aston Villa tak bisa maksimalkan laga kandang. Mereka dihadang 0-0.
    Selengkapnya
 
 

Berita Terpopular

2 Opsi PSS buat Sakti: Main atau Pergi

PSS Sleman

2 Opsi PSS buat Sakti: Main atau Pergi
Sabtu, 19-04-2014 10:04
Persib Diburu Hamynudin, PSSI Netral

Hamynudin vs Persib

Persib Diburu Hamynudin, PSSI Netral
Minggu, 20-04-2014 20:03
84 Tahun PSSI, Bersama dalam Sahaja

HUT ke-84 PSSI

84 Tahun PSSI, Bersama dalam Sahaja
Sabtu, 19-04-2014 22:03
3 Poin, Kado HUT Barito & Haji Leman

Barito Putera

3 Poin, Kado HUT Barito & Haji Leman
Sabtu, 19-04-2014 04:04
Persib Gahar, Ferdinand Dipacu 300%

Gresik vs Persib

Persib Gahar, Ferdinand Dipacu 300%
Jumat, 18-04-2014 20:03

Indonesia Football

Evolusi Tanpa Henti

Indonesia Football

Evolusi Tanpa Henti
Majalah Indonesia Football Edisi IV April 2014
Rabu, 16-04-2014 07:25

Live Score

Selengkapnya
  • Siaran TV

    • 21-04-2014 02:00
    • Barca vs Bilbao
    • 21-04-2014 01:55
    • Marseille vs Lille
    • 21-04-2014 00:00
    • Sevilla vs Granada
    Selengkapnya

Klasemen Sepakbola

  • No
  • Klub
  • Main
  • Poin
  • 1
  • Liverpool
  • 35
  • 80
  • 2
  • Chelsea
  • 35
  • 75
  • 3
  • Manchester City
  • 33
  • 71
  • 4
  • Arsenal
  • 35
  • 70
  • 5
  • Everton
  • 34
  • 66
Selengkapnya
  • Top Skorer

    • No
    • Nama
    • Klub
    • Gol
    Selengkapnya
ping fast my blog, website, or RSS feed for Free