Bulutangkis RI
Legenda Belok Arah ke Mennegpora
Selasa, 05-06-2012 04:02 | Kategori: Jaring | Dibaca 1799 kali | Komentar : 0
Legenda Belok Arah ke Mennegpora (sp+) Berita Terkait
BATAL berdialog dengan PB PBSI, legenda bulutangkis satroni Mennegpora, Selasa (5/6). Aneh, soal inti belum selesai, mereka sudah belok arah.
Para mantan atlet yang menamakan diri legenda bulutangkis nasional lintas generasi itu urung memenuhi undangan PBSI ke Cipayung, Senin (4/6). Alasannya: banyak di antara mereka tak bisa hadir dengan beragam dalih.
Terbukti, pada dialog yang dihadiri langsung Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso, tak terlihat 1 pun legenda bulutangkis yang mengeluarkan 7 butir petisi. Yang ada hanya Verawati Fajrin, Lilik Sudarwati, Icuk Sugiarto, Christian Hadinata, dan Ricky Subagja.
Kehadiran 5 mantan pebulutangkis nasional itu bukan mewakili mereka yang telah membuat dan mengirim 7 butir petisi kepada PB PBSI. Kelimanya hadir memang karena memenuhi undangan PB PBSI.
Petisi pun telah dijawab Djoko. Sayang, jawaban itu belum melalui hasi diskusi antara para legenda dan pengurus PBSI. Padahal tujuannya 1: memperbaiki prestasi demi mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia.
Lucunya, para legenda itu justru mengagendakan pertemuan dengan Mennegpora Andi Mallarangeng. Pertemuan itu dijadwalkan berlangsung di lantai 10 Gedung Kemennegpora, Selasa (5/6) pukul 10:00 WIB.
Persoalan pun bakal makin kusut. Sebab, soal inti yang konon diniatkan belum lagi diproses maksimal, kini malah belok arah dan melebar ke Mennegpora.
Meski begitu, PB PBSI melalui Sekjen Yacob Rusdianto mengaku tak ambil pusing. Apa yang diinginkan para legenda buluangkis untuk duduk bareng membahas bulutangkis Indonesia ke depan pun telah direspon. Belum berjalan justru lantaran para legenda sendiri yang berkelit dari jadwal.
Datang atau tidaknya para legenda itu bukan lagi urusan PB PBSI. Pastinya, Djoko selaku Ketua Umum PB PBSI masih buka pintu selebar-lebarnya jika para legenda itu memang ingin bertemu dan berdiskusi denganya.
"Pak Djoko sudah mengemukakan kapan pun beliau siap bertemu asal jangan dadakan. Harus dikonfirmasi dulu," ujar Yacob kepada sportiplus.com, Senin (4/6).
Nah, siapa menantang dan siapa ditantang? Mau dibawa ke mana soal inti bulutangkis Indonesia? Jika betul murni bertujuan memperbaiki banyak hal demi kembali tegaknya kejayaan bulutangkis Indonesia, mestinya jangan malah menambah ribet dengan melangkah ke mana-mana.
"Kalah di Thomas-Uber Cup bukan berarti bulutangkis Indonesia mati. Merah Putih masih cukup disegani di kancah bulutangkis dunia," sindir Candra Wiajaya.
Icuk pun buka suara. Menurutnya, China pun pernah merasakan apa yang kini dirasakan Indonesia. Saat Indonesia jadi negara bulutangkis terkuat di dunia, China tak bisa berbuat apa-apa.
Artinya, China sudah bisa meningkatkan proses regenerasi atletnya dan terus mencetak prestasi di berbagai event. Indonesia, ironisnya, justru berjalan mundur seperti China 20 tahun lalu.
Solusi yang diharapkan sebagaimana dicetuskan lewat 7 butir petisi pun ternyata prosesnya masih melintir ke sana kemari. Tidak fokus, tidak jernih.














