Olahraga Nasional
Richard Kritisi Sistem PON
Selasa, 19-06-2012 18:29 | Kategori: Umum | Dibaca 1876 kali | Komentar : 0
Richard Kritisi Sistem PON (sp+) Berita Terkait
PON dianggap Richard Sam Bera sudah melenceng dari tujuan. Terutama soal sistem pelaksanannya. Olimpiade harusnya jadi target, bukan lagi PON.
Richard mengaku tak lagi peduli soal gelaran PON. Banyak atlet yang mencanangkan PON sebagai tujuan utama. Alasannya simpel: bonus yang ditawarkan daerah lebih menggiurkan ketimbang prestise Olimpiade.
Lucunya, bonus besar mampu dikeluarkan daerah melalui dana APBD. Tapi, saat atlet menjalani pelatihan, baik dana maupun fasilitas, tidak terpenuhi dengan baik.
Itu adalah akal-akalan pemerintah daerah hanya demi mendapatkan dana segar nan besar dari APBD. Juga APBN besar bagi daerah agar kembali dipercayajadi penyelenggara event besar.
Setuju dengan yang diucapkan Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Rita Subowo, Richard menyatakan mind set atlet harus diubah. Karena itu, sistem penyelenggaraan terkait penetapan bonus, cabang, dan nomor pertandingan pun harus dibenahi.
"Lebih baik PON ditiadakan saja karena sudah melenceng. PON malah dijadikan kendaraan politik. Seharusnya jangan lihat ke Asia Tenggara lagi. Fokusnya menatap ke arah yang lebih tinggi, yaitu Olimpiade," ucap Richard.
Richard menambahkan PON memang tak harus dibubarkan. Tapi, sistemnya yang ada harus diubah. Cabang yang non-olimpik yang lebih ditekankan untuk dilombakan dalam PON.
Cabang-cabang yang tidak dipertandingkan di tingkat Olimpiade diberikan kesempatan memacu prestasi di PON. Itu pun cukup melibatkan atlet U-23 agar pembinaan dan regenerasi atlet bisa berjalan dengan baik.
"Atlet terjebak dalam sistem yang berantakan demi mencari kesejahteraan. Itu tidak sesuai dengan tujuan dijalankan PON, yakni untuk pembinaan atlet," tegas Richard.
Alet daerah yang punya prestasi bagus di tingkat nasional dibajak daerah lain. Tak segan, atlet berprestasi itu dibeli dengan harga tinggi demi menyelamatkan muka daerah lain.
Itu berarti tak ada jenjang prestasi dan blue print yang jelas soal program pembinaan atlet. Itu senada dengan pernyataan Susi sebagai salah 1 pemegang gelar juara bulutangkis Olimpiade 1992 Barcelona.
"Tidak ada lagi ada sportivitas. Atlet dengan mudah diperjualbelikan. Bonus besar bikin mimpi atet terpasung di PON. Mungkin itu juga yang bikin prestasi Indonesia mandek," pungkas Susi.














