Kisruh PSSI
Djohar Dikuliti Mantan Pengurusnya
Selasa, 14-08-2012 06:01 | Kategori: Sepakbola Nasional | Dibaca 2352 kali | Komentar : 0
Djohar Dikuliti Mantan Pengurusnya (sp+) Berita Terkait
KINERJA buruk Djohar Arifin Husin makin nyata. Farid Mubarok, mantan anggota Komite Studi dan Startegi PSSI Djohar, kuliti itu lewat Twitter-nya.
Selama ini kritik atas kinerja buruk Djohar dalam memimpin PSSI muncul dari mulut orang-orang di luar lingkungan kepengrusan PSSI di bawah pimpinannya. Lalu, apa yang terjadi jika mantan pengurus PSSI di bawah pimpinannya yang buka suara?
Dan, hal itulah yang terjadi. Farid lakukan itu lewat akun jejaring sosial Twitter-nya, @FaridMubarok. Sosok yang pernah duduk di kursi anggota Komite Studi dan Strategi PSSI Djohar itu secara gamblang menguliti kinerja buruk Djohar dkk dalam memimpin PSSI.
"Contoh PSSI. Sudah berjuang habis-habisanan dengan materi, fisik yang tidak terhitung, setelah duduk jadi pengurus, budeg juga. Ke mana reformasi?" tulis Farid dalam akun Twitter-nya, @FaridMubarok.
"Fakta: peringkat Indonesia di FIFA. Mau bicara apa saja, ngeles kaya apa, itulah fakta! Pengurus dan pelaksana kesekjenan tidak mampu memuaskan keinginan publik. Transparansi, akuntabel, dan prestasi: nihil! Kesalahan dan kesalahan dilakukan berulang. Kasihan, malu sama keledai. Hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama. Kalau ditanya apa saya ya banyak. Admin, tikecting, program, dan prestasi. Masih sporadis dan tidak berjenjang," lanjut Farid.
Lebih lanjut, Farid juga kritisi kepengurusan PSSI Djohar yang tidak berjalan efektif. Pengurusnya banyak, tapi kinerjanya nihil.
"Sudah diingatkan, jangan banyak-banyak kabinetnya, jangan pakai orang-orang lama yang telah buruk jejak rekamnya. Ini malah membeludak. Pengurus PSSI segede gajah. Staf khusus ini itu banyak. Sekjen ada ada 4 deputi. Terus kerjanya mana? Untuk ngurus media, media punya Wasekjen Bidang Media dan IT, Direktur Media, Juru Bicara, Komite Media. Kurang apa lagi. Boro-boro koordinasi, tupoksi saja tidak tahu. Jabatan kok gengsi-gengsian. FIFA hanya butuh media ofiser, titik, tapi yang bersertifikate," tegas Farid.
Tak hanya kritisi gemuknya kepengurusan. Farid dalam Twitter-nya itu pun mempertanyakan hasil kerja sama yang digalang dengan beberapa instansi swasta dan pemerintah.
"PSSI bikin MoU dengan Universitas Gunadarma buat website biar ciamik. Mana buktinya, website gitu ya? Malu-maluinlah. MoU dengan Bupati Purwakarta, mana lahannya? Bikin capek saja dengarnya. Lahan gak jelas digembar-gemborkan," papar Farid.
"Coba tunjukkan mana MoU PSSI yang bermanfaat dan berguna. Dengan BPKP sama saja bohong PSSI udah gak pake duit negara. Kalau jujur dengan model BPKP, ya harus dikejar dan buat model laporan keuangan terbuka. Berapa gaji Ketua Umum, berapa gaji Sekjen, berapa pendapatan. Ketua Umum pun harus jujur dan terbuka. Darima mana dana operasional PSSI dan untuk apa saja. Nah, mau buka-bukaan tidak," lanjut Farid.
Dalam ocehan di Twitter-nya yang juga sempat ditanggapi Wakil Ketua Komisi Disiplin Catur Agus Saptono, Farid pun akhirnya meminta Djohar dengan sebutan Prof untuk sadar diri dan mundur.
"Karena tidak menyangka jadi ketua umum, ya jadi begini. Masih terkaget-kaget. Kalau tidak berani lobi dan banyak cingcong, mundur saja. Jadi dosen lebih terhormat. Kami sudah capek mengikuti drama-drama ini. Mana, katanya era industri? Jangan-jangan Anda tidak paham? PSSI bukan organisasi gelap dan gak jelas. Ini organisasi penuh potensi dan gairah. Jangan main-mainlah, Prof," tegas Farid.
"Kalau pemimpin tidak amanah, wajib dijewer. Tidak bisa dijewer, ya gebuk saja. Beres!" lanjut Farid.
Saat dikonfirmasi, Farid pun tak menampik ocehan di Twitter-nya. Termasuk penilainnya terhadap kinerja PSSI di bawah pimpinan Djohar yang dinilainya gagal total.
"Ini adalah fakta. Harus diselesaikan dengan mencari solusi dan duduk bersama. Ini adalah sejarah besar, tapi tidak berjalan maksimal. Seharusnya bisa lebih," pungkas Farid.












